Ilustrasi. (Foto: Okezone)
JAKARTA - Pergerakan rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini diprediksi masih tidak terlalu banyak pergerakan, dan masih berada di level Rp9.690-Rp9.710 per USD. Hal tersebut dipengaruhi semakin membaiknya ekonomi AS, lantaran Rilis data pengajuan klaim jaminan sosial di AS, lebih baik dari ekspektasi.
"Kondisi ini diprediksi akan membuat USD akan menguat terhadap mata uang lain termasuk rupiah. Untuk itu BI perlu mengantisipasi pelemahan rupiah dengan melakukan intervensi ke pasar uang," kata Analis rupiah R Anggoro Widagdo di Jakarta, senin (18/3/2013).
Selain itu, untuk minggu ini yang perlu menjadi perhatian bagi pelaku pasar adalah rencana pemerintah memformulasikan kembali kebijakan subsidi bahan bakar.
Adapun sentimen positif bagi kawasan Asia, datang dari Jepang dimana Parlemen Jepang akhirnya menyetujui Haruhiko Kuroda sebagai gubernur Bank of Jepang (BoJ) berikutnya. Kuroda juga membuka jalan untuk stimulus moneter agresif yang dicanangkan oleh Perdana Menteri Shinzo Abe, sebagai bagian rencana ekonominya.
Target dari Pemerintah kepada BOJ adalah dengan segera menyiapkan langkah kebijakan untuk mencapai target inflasi dua persen. Dengan kondisi ini, Abe bisa memuluskan janji politiknya untuk mengakhiri deflasi dengan pembelanjaan besar.
Fokus kini tertuju ke apa yang akan dilakukan BOJ dalam rapat pertamanya di bawah kepemimpinan Kuroda, yang sebelumnya menjabat sebagai Presiden ADB selama delapan tahun. Rapat BOJ selanjutnya digelar pada 3-4 April nanti, di sinilah kemungkinan Kuroda meluncurkan stimulusnya.
"Kuroda berjanji akan bertindak cepat dan melakukan apapun yang diperlukan untuk mencapai target inflasi. Janji itu memicu spekulasi ia bisa menggelar rapat lebih cepat dari jadwal. Kuroda dan Iwata pernah mengimbau BOJ perlu membeli obligasi pemerintah jangka lebih panjang untuk mendorong ekspektasi inflasi," tutup dia.
Sekadar informasi, pada perdagangan akhir pekan lalu, rupiah ditutup stagnan ke level Rp9.703-Rp9.707 per USD setelah sebelumnya pada hari Kamis ditutup di level Rp9.702-Rp9.707 per USD. Stagnannya kondisi ini diakibatkan minimnya sentiment positif terhadap ekonomi global dan masih menunggunya para pelaku pasar terhadap pertemuan para pemimpin Eropa di Brussels. (mrt)
Sumber : OkeZone
"Kondisi ini diprediksi akan membuat USD akan menguat terhadap mata uang lain termasuk rupiah. Untuk itu BI perlu mengantisipasi pelemahan rupiah dengan melakukan intervensi ke pasar uang," kata Analis rupiah R Anggoro Widagdo di Jakarta, senin (18/3/2013).
Selain itu, untuk minggu ini yang perlu menjadi perhatian bagi pelaku pasar adalah rencana pemerintah memformulasikan kembali kebijakan subsidi bahan bakar.
Adapun sentimen positif bagi kawasan Asia, datang dari Jepang dimana Parlemen Jepang akhirnya menyetujui Haruhiko Kuroda sebagai gubernur Bank of Jepang (BoJ) berikutnya. Kuroda juga membuka jalan untuk stimulus moneter agresif yang dicanangkan oleh Perdana Menteri Shinzo Abe, sebagai bagian rencana ekonominya.
Target dari Pemerintah kepada BOJ adalah dengan segera menyiapkan langkah kebijakan untuk mencapai target inflasi dua persen. Dengan kondisi ini, Abe bisa memuluskan janji politiknya untuk mengakhiri deflasi dengan pembelanjaan besar.
Fokus kini tertuju ke apa yang akan dilakukan BOJ dalam rapat pertamanya di bawah kepemimpinan Kuroda, yang sebelumnya menjabat sebagai Presiden ADB selama delapan tahun. Rapat BOJ selanjutnya digelar pada 3-4 April nanti, di sinilah kemungkinan Kuroda meluncurkan stimulusnya.
"Kuroda berjanji akan bertindak cepat dan melakukan apapun yang diperlukan untuk mencapai target inflasi. Janji itu memicu spekulasi ia bisa menggelar rapat lebih cepat dari jadwal. Kuroda dan Iwata pernah mengimbau BOJ perlu membeli obligasi pemerintah jangka lebih panjang untuk mendorong ekspektasi inflasi," tutup dia.
Sekadar informasi, pada perdagangan akhir pekan lalu, rupiah ditutup stagnan ke level Rp9.703-Rp9.707 per USD setelah sebelumnya pada hari Kamis ditutup di level Rp9.702-Rp9.707 per USD. Stagnannya kondisi ini diakibatkan minimnya sentiment positif terhadap ekonomi global dan masih menunggunya para pelaku pasar terhadap pertemuan para pemimpin Eropa di Brussels. (mrt)
Sumber : OkeZone
Komentar
Posting Komentar